Arsip Statis Seniman : Drs. I Nyoman Sukanta

Oleh : perpustakaan | 13 Mei 2019 | Dibaca : 317 Pengunjung


Arsip Statis Seniman : Drs. I Nyoman Sukanta

Drs. I Nyoman Sukanta merupakan Seniman Ukir yang berasal dari Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, Kabupaten Bangli.

Beliau lahir pada tanggal 31 Desember 1962 di Banjar Pande. Pria yang menyandang gelar Sarjana Seni Rupa ini merupakan anak pertama dari pasangan I Nyoman Tanggap yang juga merupakan seniman ukir dengan Ni Wayan Pilih. Drs. I Nyoman Sukanta memiliki 3 (tiga) orang anak hasil pernikahannya dengan Desak Putu Suartini, yakni : I Gede Pande Kresna Yoga, I Made Pande Arjun Yoga dan Ni Komang Gek Laksmi.

Kehidupan dalam berkesenian khususnya di bidang seni ukir/ pahat dilakoni oleh Drs. I Nyoman Sukanta dari tahun 1979 sampai dengan sekarang ini. Ayahnya yang juga seorang seniman ukir tidak serta merta mengajarkan Drs. I Nyoman Sukanta dalam mengukir khususnya dalam mengukir kulit telur. Hal ini dikarenakan bahan baku yang berupa telur burung unta ataupun burung kaswari harganya mahal dan sulit dicari, karena dikawatirkan apabila digunakan sebagai media pembelajaran telurnya rusak bahkan pecah. Proses belajar mengukir kulit telur seniman Drs. I Nyoman Sukanta dimulai dengan memperhatikan ayahnya sedang mengukir kulit telur. Saat ayahnya sedang pergi makan atau tidak berada di rumah maka Drs. I Nyoman Sukanta dengan inisiatif sendiri mencuri kesempatan mencoba mempraktikan mengukir telur dan hasilnya diperlihatkan pada ayahnya. Sehingga percayalah ayahnya bahwa Drs. I Nyoman Sukanta ternyata bisa mengukir telur dan berani untuk mengajarkan secara langsung.

Kemampuan beliau dalam mengukir semakin didalami ketika kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Udayana. Walaupun kuliah bukan di bidang mengukir tetapi di bidang seni rupa berupa melukis, akan tetapi ternyata ada kaitannya dalam membuat pola-pola ukiran/ pahatan. Hal ini membuat Drs. I Nyoman Sukanta semakin mahir dalam mengukir tidak saja dalam mengukir kulit telur, tetapi berupa ukiran dengan media lain seperti ukiran gading gajah, ukiran kayu, ukiran gelang uli/ akar bahar, bahkan juga beberapa kali membuat ukiran tongkat komando. Untuk menghindari klaim dari pihak lain maka didaftarkanlah dua karyanya berupa pahatan kulit telur yang berjudul Ramayana dan Mahabarata sehingga resmi terdaftar dan diabadikan dalam Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tahun 2016. ( Bidang Pembinaan, Pengelolaan dan Pelestarian Kearsipan)


ARTIKEL LAINNYA

LIHAT ARSIP ARTIKEL LAINNYA

 

BAGIAN ORGANISASI SETDA. KABUPATEN BANGLI, KEPALA SUB. BAG PERPUSTAKAAN

I Dewa Gde Yudi Liastawan, SE