Oleh : perpustakaan | 16 Mei 2019 | Dibaca : 582 Pengunjung
|
| Arsip Statis Monumen Bersejarah Bale Pejenengan (Bale Kulkul/Gendongan) “ I Gejen ” Puri Agung Bangli |
Jika masuk Kota Bangli dari arah selatan akan tampak sebuah menara tumpang 3 (tiga) yang dilatar belakangi oleh Bukit Bangli. Bangunan Bale Pejenengan (Bale Kulkul/Gendongan) merupakan ciri khas kota lama yang dilatar depannya juga dihias patung “Dewayu Denbencingah” Ratu Bangli perkasa yang terkenal, berhasil mempertahankan eksistensi kerajaan Bangli.
A. Sejarah Bale Pejenengan ( Bale Kulkul/Gendongan) “ I Gejen “
Di Bangli ada sepasang Pejenengan (kulkul/Gendongan) yang bernama “I GEJEN”, dimana keberadaannya diperkirakan sudah ratusan tahun, karena sudah ada sejak zaman kerajaan di Bangli. Sepasang Pejenengan (kulkul/Gendongan) yang dikatagori lanang wadon (laki-perempuan) diperkirakan sudah ada sebelum tahun saka : 1711, konon pada belakang kulkul wadon (perempuan) tertera candra sangkala yang berbunyi “Candra-Prabu-Pandita-Ratu”.
Candra = 1 ; Prabu = 1; Pandita = 7; Ratu = 1.
Jadi Candra Prabu Pandita Ratu = 1171 kalau dibalik menjadi 1711, dan kalau ditransfer ke tahun Masehi : 1711+78=1789. Dengan demikian pembuatan Pejenengan (kulkul/Gendongan) wadon (perempuan) diperkirakan tahun 1789 Masehi. Oleh karena kulkul lanang (laki) tersebut jauh dibuat lebih dahulu, maka dapat disimpulkan Pejenengan (kulkul/Gendongan) itu keberadaanya jauh sebelum tahun 1789 Masehi.
Oleh karena tuanya sehingga masyarakat tami-ketami (turun-temurun) tidak mengetahui secara pasti siapa sangging (tukang) yang membuatnya. Dengan demikian wajar masyarakat Bangli menganggap bangunan Bale Pejenengan (kulkul/Gendongan) ini merupakan salah satu monumen bersejarah yang sangat tua karena wibawa suaranya angker, dimana saat dibunyikan bisa terdengar sampai belasan kilometer dan yang mendengarkannya pun merasa berdiri bulu romanya.
Pejenengan (kulkul/Gendongan) yang bernama “I Gejen” itu terbuat dari kayu selegui (sejenis tanaman perdu) yang akibat keanehannya bisa membesar, sehingga Pejenengan (kulkul/Gendongan) itu dikeramatkan oleh raja sampai masyarakat sekarang.
Sebelum dipindahkan ke lokasi yang sekarang yaitu di depan Puri Soka, Puri Agung Bangli. Dahulu lokasinya berada disebelah barat Puri Denpasar, Puri Agung Bangli, dengan struktur tumpang 3 (tiga) berbahan tiang dari pohon kelapa yang beratapkan alang alang. Bale Pejenengan (Bale Kulkul/Gendongan) “I Gejen“ berdampingan dengan sebuah bangunan wantilan (balai masyarakat) yang juga bertumpang 3 (tiga) yang difungsikan sebagai tempat masyarakat berkumpul juga dimanfaatkan sebagai tempat sambungan ayam (Tajen), sebagaimana terlihat seperti foto dibawah ini.
Karena kondisinya sudah mulai rusak dimakan usia, pohon kelapa mulai lapuk demikian pula atapnya sudah bocor, maka tahun 1939 oleh Regent Bangli yang bernama Ida Anak Agung Ketut Ngurah dipindahkan ke lokasi sekarang yaitu sebelah barat Puri Soka, Puri Agung Bangli dengan tiang pohon kelapa dan atapnya dari genteng. Seperti terlihat pada foto dibawah ini.
Kemudian tiang pohon kelapa mengalami kerusakan kembali, mengingat kondisi rusak parah, untuk menghidari hal – hal yang tidak diinginkan seperti jatuh menimpa pengguna jalan, maka pada hari selasa tanggal 28 Nopember 2000 pejenengan “I Gejen” lanang wadon diturunkan dan sementara disemayamkan di Puri Agung Rum (bangunan kerajaan) bekas persemayaman raja Dewayu Denbencingah, dengan upacara keagamaan yang dipandu oleh pendeta. Bale Pejenengan (kulkul/Gendongan) “I Gejen” dipugar diganti dengan tiang beton (besi bertulang) beratap genteng.
Disamping perbaikan fisik bangunan Pejenengan (kulkul/Gendongan) “I Gejen” yang kondisinya rusak/lapuk, maka oleh keluarga Puri Agung Bangli dibuatkan duplikatnya dengan memakai Kayu Bisa yang diambil di Samuh Karangasem dan satunya dari kayu ketewel/nangka diambil di Sidawaas Cempaga Bangli. Seperti terlihat pada foto dibawah ini.
B. Penggunaan Pejenengan ( Bale Kulkul/Gendongan) “ I Gejen “
Saat ini apabila ada kegiatan di Bangli, Pejenengan (Kulkul/Gendongan) yang lama hanya dibunyikan sebanyak 3 kali dan dilanjutkan dengan membunyikan Pejenengan (Kulkul/Gendongan) duplikatnya.
Pejenengan (Bale Kulkul/Gendongan) yang bernama “I Gejen” mulai dari zaman kerajaan sampai saat ini hanya bisa dibunyikan pada saat :
a. Kerajaan Bangli terserang musuh atau dalam darurat lainnya, pada zaman kerajaan dahulu jika “ I Gejen “ sudah dibunyikan bertalu-talu maka seluruh masyarakat keluar ke bencingah, siap membawa senjata guna menunggu perintah raja untuk berperang.
b. Betara Pura Kehen lunga (pergi) melasti atau melewati Pejenengan (Kulkul/Gendongan) “ I Gejen “,
c. Betara Pura Batur lunga (pergi) melasti atau melewati Pejenengan (Kulkul/Gendongan) “ I Gejen “,
d. Saat berlangsungnya upacara tawur kesanga, biasanya pada saat itu Pejenengan (Bale Kulkul/Gendongan) yang bernama “I Gejen” juga katuranayaban sorohan khusus,
e. Pada saat dilaksanakan upacara ‘Ngerebeg-Nyatur”
Seperti diketahui Bangli dikelilingi oleh 4 (empat) Pura Dalem :
1. di Utara : Pura Dalem Gede Selawungan (Banjar Pande)
2. di Barat : Pura Dalem Purwa (Banjar Kawan)
3. di Selatan : Pura Dalem Penunggekan (Banjar Blungbang)
4. di Timur : Pura Dalem Cungkub (Banjar Griya)
pada Hari Raya Kuningan Ida Betara Nyatur Dalem tedun ke Perempatan Agung yang dinamakan Pengrebegan Nyatur, pada saat upacara berlangsung Pejenengan (Kulkul/Gendongan) yang bernama “I Gejen” dibunyikan bertalu-talu menambah keangkeran upacara tersebut.
f. Pada saat penglingsir Puri Agung Bangli wafat dan diupakarai.
Arsip Statis Veteran : I Wayan Geledug
259Arsip Statis Veteran : Nyoman Murah
714Arsip Statis Seniman Drama Gong : Ni Wayan Sirat
325Arsip Statis Veteran : I Mundel
265Arsip Statis Veteran : I Nyoman Pudji
BAGIAN ORGANISASI SETDA. KABUPATEN BANGLI, KEPALA SUB. BAG PERPUSTAKAAN
I Dewa Gde Yudi Liastawan, SE