Oleh : perpustakaan | 14 Mei 2019 | Dibaca : 223 Pengunjung
|
| Arsip Statis Kuburan Ari-Ari Desa Bayung Gede |
Kuburan ari-ari tidak ada yang tahu persis kapan pastinya tradisi menggantung ari-ari ini dimulai. Konon katanya, tradisi ini telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Warga Bayunggede meyakini bahwa tradisi ini ada kaitannya dengan asal mula terbentuknya Desa Bayunggede. Dikisahkan manusia pertama di Bayunggede terlahir dari tued (kayu yang telah dipotong dan tersisa pangkalnya) yang kemudian dihidupkan oleh Tirta Kamandalu oleh kera putih yang merupakan putra dari Bhatara Bayu. Namun, jika terbukti melanggar, keluarga yang bersangkutan harus membayar dengan 200 keping uang kepeng dan melaksanakan upacara mesayut untuk menyucikan kembali pekarangan mereka.
Proses menggantung ari-ari juga terbilang cukup rumit. Pertama, ari-ari harus dicuci sebersih mungkin menggunakan air tawar bersih. Lalu, siapkan tempurung kelapa yang sudah dipangkas menjadi dua bagian dan bersih dari air dan serabut kelapa sebagai wadah ari-ari. Pada bagian atas tempurung, ditulisi Ongkara (aksara suci Hindu). Ari-ari akan digantung pada sebuah ranting pohon yang bernama Pohon Bukak. Kendati masih terbilang leteh, keluarga yang baru saja menggantung ari-ari wajib menandai rumahnya dengan daun pakis agar warga tahu bahwa rumah di tersebut ada bayi yang baru lahir dan pantang didatangi oleh orang suci maupun tokoh desa. Setelah satu bulan tujuh hari, barulah dilaksanakan upacara penyucian sederhana di pekarangan rumah dan aktivitas pun kembali berjalan normal.
Tradisi menggantung ari-ari ini kian unik dengan berbagai aturan-aturan yang membatasi para warga yang baru memiliki bayi, salah satunya yaitu, yang membawa ari-ari ke kuburan harus seorang pria. Jika ayahnya berhalangan, maka boleh digantikan oleh anggota keluarga yang lain dan harus seorang pria. Mereka pun harus menggunakan pakaian adat dan membekali diri dengan sabit. Konon, zaman dulu, kuburan itu adalah hutan yang luas, bisa jadi akan ada binatang buas yang muncul. Maka, prialah yang harus berangkat, dan sabit juga berfungsi sebagai senjata selain untuk menebas semak dan ranting Pohon Bukak untuk menggantung ari-ari.
Jika ingin pertumbuhan bayi berjalan normal tanpa gangguan, maka beberapa pantangan ini jangan sampai dilanggar oleh orang tua bayi yang hendak menggantung ari-ari anaknya. Pertama, ari-ari harus dibawa ke kuburan ketika subuh atau saat beranjak petang. Sangat pantang jika menggantung ari-ari saat matahari masih bersinar.Kedua, pantang untuk melakukan interaksi dengan siapa pun ketika hendak membawa ari-ari ke kuburan. Dilarang ngobrol, tolah-toleh, juga tertawa. Hal ini diyakini dapat membuat pertumbuhn bayi menjadi tidak baik dan kelak tumbuh menjadi pribadi yang tidak fokus pada tujuan dan hal buruk lainnya. Ketiga, pantang untuk menebang pohon di lingkungan kuburan untuk kepentingan pribadi. Sebagai ganjaran, yang menebang tersebut harus menerima sanksi adat dan harus menanam pohon berjenis sama di areal pekuburan. Hal itu dilakukan karena diyakini bahwa pohon-pohon yang ada di areal tersebut cukup keramat dan harus dijaga.
Pohon yang digunakan menggantung ari-ari bukanlah sembarang pohon, melainkan pohon yang khasiatnya sejenis dengan Pohon Taru Menyan di Desa Terunyan, Kintamani. Digantung di Pohon Bukak, ari-ari tidak sedikit pun menguarkan bau amis. Dinamai Pohon Bukak karena ketika masak, buahnya akan terbuka dan terbelah menjadi dua. Pohon Bukak juga melambangkan alat vital perempuan yang diyakini sebagai ibu saudara bayi yang akan mengasuhnya secara magis. Dari simbolisasi ini, Pohon Bukak dimaknai sebagai manusia yang akan menjaga saudara bayi (ari-ari) dari berbagai macam gangguan gaib.
Arsip Statis Veteran : I Wayan Geledug
259Arsip Statis Veteran : Nyoman Murah
714Arsip Statis Seniman Drama Gong : Ni Wayan Sirat
325Arsip Statis Veteran : I Mundel
265Arsip Statis Veteran : I Nyoman Pudji
BAGIAN ORGANISASI SETDA. KABUPATEN BANGLI, KEPALA SUB. BAG PERPUSTAKAAN
I Dewa Gde Yudi Liastawan, SE