Arsip Statis Budaya Angkul-angkul Desa Adat Penglipuran

Oleh : perpustakaan | 14 Mei 2019 | Dibaca : 314 Pengunjung


Arsip Statis Budaya Angkul-angkul Desa Adat Penglipuran

Lokasi lokasi Desa Adat Penglipuran, berada di Desa Kubu, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Jarak dari Kota Bangli ke Desa Penglipuran, kurang lebih 4,9 kilometer atau 43,6 kilometer dari pusat Kota Denpasar dengan jarak tempuh kira-kira 1 jam 17 menit. Lokasi Desa Penglipuran Bangli berada di ketinggian sekitar 600 – 700 meter dari permukaan laut. Akibat berada di posisi ketinggian ini, membuat udara terasa sejuk.

Desa Penglipura memiliki ciri khas bangunan yang berupa Keseragaman pintu gerbang masuk rumah penduduk yang disebut “Angkul-angkul”. Bentuk angkul-angkul di Penglipuran cukup khas. Tingginya sekitar 3,5 meter, dengan lebar pintu masuk 1 meter, berwarna tanah dan beratap bambu. Ada 76 angkul-angkul yang berasal dari 76 pekarangan rumah yang berjajar rapi dari ujung utara hingga selatan desa. Angka 76 ini menunjukkan 76 keluarga utama atau krama pangarep. Angkul-angkul itu berdiri berhadap-hadapan di depan jalan yang lebarnya hanya 3 meter.

Keseragaman ini sesungguhnya baru terjadi tahun 1992. Kala itu, Bupati Bangli ,Ida Bagus Ladip berobsesi untuk “menyulap” Penglipuran menjadi desa wisata yang khas. Untuk mewujudkan obsesi itu, maka pertama-tama wajah Penglipuran harus diubah. Namun, perubahan itu haruslah tetap mencerminkan kekhasan desa tradisional ini. Setelah diamati, dilihatlah angkul-angkul sebagai hal yang bisa ditonjolkan sebagai ciri khas. Memang saat itu masih ada angkul-angkul dari sejumlah rumah di Penglipuran yang berbau tradisional dan unik.

Menurut Bendesa Adat Penglipuran, I Wayan Supat, dulu angkul-angkul di Penglipuran memang beratap bambu, namun yang membedakan adalah penyangganya. Jika si pemilik rumah orang kaya, penyangganya bisa berbahan batu paras. Akan tetapi jika pemilik rumahnya orang kurang mampu, penyangganya terbuat dari batu polpolan.

Model angkul-angkul inilah yang kemudian dibuat seragam untuk rumah-rumah di Penglipuran. Angkul-angkul itu dibuat bersama dengan biaya dipikul secara bersama-sama pula serta dengan bantuan dari desa-desa tetangga secara bergotong-royong.

Angkul-angkul seragam itu kini menjadi ikon Penglipuran. Ketika menyebut Desa Penglipuran, orang langsung teringat dengan angkul-angkul seragam. Orang pun banyak yang datang ke Desa Penglipuran hanya ingin menyaksikan jajaran rumah yang tertata rapi dengan angkul-angkul seragam.


ARTIKEL LAINNYA

LIHAT ARSIP ARTIKEL LAINNYA

 

BAGIAN ORGANISASI SETDA. KABUPATEN BANGLI, KEPALA SUB. BAG PERPUSTAKAAN

I Dewa Gde Yudi Liastawan, SE